News Update :
Topics :

Aqidah Islamiyah

Oase Iman

Khutbah

Tazkiyatunnafsi

Shirah

Gallery Kegiatan


Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

Dakwah dan Rumah

30/01/13

Seorang sahabat menulis pertanyaan seperti ini kepada saya: “Kegiatan-kegiatan yang saya lakukan semuanya atas nama dakwah. Namun sering kali melalaikan tugas sebagai kepala keluarga. Mohon masukannya”.
Sangat menarik pertanyaannya. Kalau istilah pak Mario Teguh, “super sekali”. Pertanyaan yang sebenarnya mewakili banyak kalangan aktivis dakwah. Ada kondisi paradoks, satu sisi “merasa” sibuk dengan berbagai kegiatan dakwah, namun di saat yang sama melalaikan peran sebagai kepala rumah tangga.

Syumuliyah Dakwah
Pertama kali yang harus dipahami adalah makna dakwah dan syumuliyah dakwah. Sebagaimana kita ketahui, dakwah adalah usaha mengajak manusia menuju nilai-nilai kebaikan sesuai tuntunan Ketuhanan dan petunjuk Kenabian. Maka aktivitas dakwah mencakup aspek yang sangat sangat sangat luas. Usaha membahasabumikan nilai-nilai langit, bisa kita wujudkan dalam beragam aktivitas.
Selama ini sebagian masyarakat memahami dakwah dalam konteks yang sempit, misalnya ceramah, khutbah, tabligh akbar, pengajian dan lain sebagainya. Seakan dakwah itu maknanya hanyalah forum atau mimbar untuk berbicara. Padahal dakwah itu adalah hal bagaimana nilai-nilai kebaikan bisa direalisasikan dalam kehidupan keseharian. Bukan soal ceramah atau khutbah, namun soal merealisasikan kebajikan dalam kehidupan nyata.
Oleh karenanya dakwah bersifat syamil, utuh menyeluruh. Syumuliyah dakwah, adalah pandangan tentang keutuhan dakwah, tanpa membuat dikotomi yang tidak perlu antara peran “publik” dan “domestik”. Antara peran di dalam dan di luar rumah. Antara peran sebagai kepala rumah tangga dengan kepala desa. Antara peran sebagai orang tua dengan peran sebagai pejabat pemerintahan, dan lain sebagainya.

Mengurus Rumah Tangga Adalah Dakwah
Dalam konteks syumuliyah dakwah, kita memahami dakwah itu ada yang di dalam rumah, ada pula yang di luar rumah. Dakwah di dalam rumah adalah membina keluarga, mendidik anak, menciptakan keluarga yang sakinah, mawadah wa rahmah. Jika keluarga harmonis, anak-anak tumbuh menjadi generasi yang shalih dan shalihah, seluruh anggota keluarga mentaati aturan Allah dan Rasul, maka itulah keberhasilan dakwah di dalam rumah.
Sedangkan dakwah di luar rumah bisa berupa berbagai aktivitas kemasyarakatan, sosial, politik, seni, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lain sebagainya, yang mengajak masyarakat menuju keluhuran diri, ketinggian pekerti, dan kekuatan nurani. Perbaikan individu, keluarga, masyarakat dan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi fokus dari aktivitas dakwah kita di luar rumah.
Keduanya, dakwah di dalam rumah dan di luar rumah, harus sukses dan berhasil. Jangan hanya berorientasi keberhasilan di salah satu sisi, namun keduanya harus diperjuangkan untuk mendapatkan keberhasilan.
Maka tidak ada dikotomi, “saya berdakwah di luar rumah, dan di dalam rumah itu bukan dakwah”. Itu adalah pemahaman yang keliru dalam konteks syumuliyah dakwah. Justru dakwah itu mencakup peran yang harus kita jalankan di dalam rumah, dan peran yang harus kita lakukan di luar rumah. Keduanya adalah aktivitas dakwah.
Semoga kita semua mampu untuk mencapai kesuksesan dakwah di dalam dan di luar rumah.

Menyiapkan Keluarga Menyambut Ramadhan

16/07/12

Ramadhan adalah bulan yang dinantikan kehadirannya oleh umat Islam, karena amat banyak memberikan pelajaran dan hikmah baik dalam konteks ruhaniyah maupun fisik. Agar Ramadhan bisa memberikan kemanfaatan yang optimal, diperlukan kesiapan yang memadai dari setiap pribadi, yang disiapkan dalam keluarga.
Kita  ajak seluruh anggota keluarga untuk bersiap menghadapi kedatangan Ramadhan. Seluruh anggota keluarga harus berada dalam suasana kegembiraan  dan  kesyukuran, menyambut kehadiran bulan suci. Jangan sampai memasuki bulan suci tanpa kesiapan hati, tanpa kekuatan niat, tanpa kehadiran perasaan, tanpa perasaan kegembiraan.
Di antara cara menyiapkan anggota keluarga adalah dengan beberapa aktivitas berikut.
Pertama, buatlah acara bersama seluruh anggota keluarga
Carilah waktu yang tepat beberapa hari sebelum Ramadhan untuk membuat acara bersama seluruh anggota keluarga. Suami, isteri dan anak-anak berkumpul dalam suasana yang santai dan nyaman. Pada saat berkumpul itulah, orang tua menyampaikan pesan-pesan kepada anak-anak agar mereka bersiap menyambut kedatangan Ramadhan yang tinggal beberapa hari lagi tiba. Jika perlu, bisa mengundang teman atau ustadz untuk menyampaikan pesan-pesan menjelang Ramadhan.
Pertemuan bisa dilakukan di rumah sambil makan malam bersama, atau mengambil tempat di luar sambil rekreasi keluarga. Mungkin hari Minggu besok (15/07/2012) adalah waktu yang tepat, karena merupakan hari Minggu terakhir sebelum memasuki Ramadhan.
Kedua, buatlah target dan agenda Ramadhan bersama seluruh anggota keluarga
Salah satu tradisi yang baik dalam rumah tangga muslim adalah membuat target bacaan dan hafalan Al Qur’an selama Ramadhan. Misalnya, suami mentarget berapa kali khatam Al Qur’an selama Ramadhan, isteri berapa kali khatam, dan masing-masing anak khatam berapa kali. Tentu disesuaikan dengan kemampuan, namun masing-masing saling memotivasi untuk bisa lebih banyak khatam. Misalnya suami dan isteri 3 kali khatam, anak-anak yang sudah kuliah minimal 2 kali khatam, anak-anak yang sekolah SMA dan SMP minimal 1 kali khatam, dan anak-anak SD minimal membaca 15 juz atau setengah khatam.
Dalam hal hafalan juga bisa ditarget, surat apa yang akan dihafal oleh masing-masing anggota keluarga selama Ramadhan. Bisa juga ditambah target membaca buku-buku tertentu yang bermanfaat, sesuai usia dan pendidikan anak-anak. Semua target tersebut bisa ditulis dalam kertas dan ditempel di dinding rumah untuk pengingat dan penyemangat untuk mencapai target. Keluarga saya menyebut ini sebagai “Janji Ramadhan”, dimana masing-masing dari kami berjanji untuk melaksanakan aktivitas sesuai target yang telah disepakati bersama keluarga.
Agenda Ramadhan hendaknya disepakati bersama keluarga, misalnya melaksanakan shalat tarawih dimana, melaksanakan i’tikaf dimana, buka puasa dimana, melaksanakan shalat Iedul Fitri dimana, dan seterusnya. Ini semua dimaksudkan agar Ramadhan menjadi lebih berkesan dan tidak membosankan. Misalnya, untuk melaksanakan shalat tarawih, bisa berganti-ganti masjid, sehingga bisa berganti-ganti suasana.

Ketiga, membersihkan dan memperindah rumah
Menjelang Ramadhan, buatlah suasana yang sedikit berbeda di rumah kita. Bersihkan rumah kita, lebih dari biasanya. Kalau setiap hari kita membersihkan rumah “sekedarnya”, maka menjelang Ramadhan ini kita bersihkan rumah hingga detail, semua bagian dibersihkan. Setelah bersih, bisa dibuat beberapa bagian hiasan di rumah, agar rumah sudah bernuansa Ramadhan saat memasuki bulan suci tersebut.
Keluarga saya paling suka menyiapkan tempat untuk makan sahur dan buka. Rumahnya tetap itu juga, namun suasananya berbeda ketika hari pertama makan sahur di bulan Ramadhan. Kami men-setting tempat sahur dan buka di bagian tertentu di rumah, dengan suasana yang berbeda dari biasanya. Hanya dengan memindah barang-barang tertentu, mengubah tata letak, atau mengecat satu bagian dinding, ini sudah tampak sangat berbeda dan berubah.
Keempat, menyiapkan perlengkapan Ramadhan
Menjelang Ramadhan sebaiknya sudah disiapkan berbagai perlengkapan yang menunjang kekhusukan dan kesuksesan ibadah Ramadhan. Misalnya, agar bersemangat mencapai target Ramadhan kita bisa membeli mushaf Al Qur’an baru, jika memiliki anggaran dana untuk itu. Namun jika tidak memiliki dana, cukuplah menggunakan Al Qur’an yang sudah ada. Termasuk perlengkapan yang diperlukan adalah jadwal imsakiyah, yang dengan mudah bisa di-download dari berbagai situs terpercaya.
Saya termasuk orang yang suka membeli Al Qur’an baru menjelang Ramadhan, karena hal ini bisa memberikan semangat baru. Selain itu, saya memang ingin di rumah saya tersedia banyak Al Qur’an karena setiap Ramadhan selalu digunakan tempat shalat tarawih anak-anak kampung, dan diteruskan dengan tadarus bersama. Kadang anak-anak menjadi lebih semangat melaksanakan shalat tarawih karena memiliki sarung baru atau sajadah baru. Namun itu semua harus disesuaikan dengan kondisi keuangan. Tidak boleh memaksakan diri untuk menghadirkan berbagai perlengkapan teknis tersebut.
Kelima, mengulang pelajaran ibadah Ramadhan
Salah satu sifat manusia adalah lupa. Kendati fikih Ramadhan sudah kita pelajari sejak kecil, namun penting bagi kita untuk mempelajari ulang berbagai ajaran tentang ibadah Ramadhan dan Idul Fithri. Bagus kalau kita mengajak semua anggota keluarga mempelajari lagi berbagai hal tentang fikih Ramadhan, agar pelaksanaan ibadah selama Ramadhan bisa lebih sempurna dan optimal.
Setiap kali saya mengisi kajian Ramadhan, berbagai pertanyaan di seputar ibadah Ramadhan selalu muncul dan berulang. Ini menandakan, kita harus selalu mengulang pelajaran ibadah Ramadhan sebelum memulai bulan Ramadhan, agar ingatan kita tersegarkan kembali.
Demikianlah beberapa aktivitas untuk menyambut Ramadhan bersama seluruh anggota keluarga. Semoga Ramadhan 1433 H ini menjadi lebih sempurna dan memberikan keberkahan bagi diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara kita. Amin.
*) Penulis : Ust Cahyadi Takariawan
*) Sumber : http://edukasi.kompasiana.com

Fadhilah Bertasbih

05/06/12

Allah SWT mengawali tujuh suratNya dalam al-Qur’an dengan tasbih. Betapa banyak ayat tasbih yang Dia turunkan dalam KitabNya agar dipergunakan oleh manusia yang suka bertasbih memanjatkan pujian kepadaNya.
Allah SWT berfirman:
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memujiNya, tetapi kamu semua tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun.” (QS al-Isra’: 44)
“…dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu di siang hari, supaya kamu merasa senang.” (QS ThaHa: 130)
Rasulullah saw bersabda:
“Ada dua kalimat yang ringan diucapkan tetapi berat timbangannya, dan sangat disenangi oleh Allah swt, yaitu: Subhaanallah wa bihamdidhi subhaanallahil ‘adzhiim” (HR Ahmad, Al Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, An-Nasa’i dan Ibn Majah dari Abu Hurairah RA)
“Ucapan yang paling Allah swt sukai ada empat, yaitu:
Mahasuci Allah: سبحان الله
Segala puji bagi Allah:   والحمد لله
Tiada Tuhan selain Allah:    ولا إله إلا الله
Allah Mahabesar          والله أكبر:
Engkau boleh memulai dari yang mana saja.” (HR Ahmad dan Muslim dari Samrah bin Jundab RA)
“Barangsiapa bertasbih kepada Allah swt setiap selesai shalat sebanyak tiga puluh tiga kali, bertahmid tiga puluh tiga kali, bertakbir tiga puluh tiga kali, sehingga berjumlah Sembilan puluh Sembilan, dan menggenapkannya menjadi seratus dengan:  laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘ala kulli syai’in qodiir, maka semua kesalahannya akan diampuni oleh Allah swt meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ahmad dan Muslim dari Abu Hurairah RA)
Mengucapkan:
سبحان الله والحمد لله ولا إله إلا الله والله أكبر
Adalah lebih aku sukai dari pada terbitnya matahari.” (HR Muslim dari Abu Hurairah RA)
“Tasbih itu setengah timbangan, alhamdulillah, dan laa ilaaha illallah tidak ada penghalang dari Allah hingga ia sampai kepadaNya.” (HR Tirmidzi dari Ibnu ‘umar RA)
“Tidaklah mati seekor binatang buruan, dan tidaklah ditebang tumbuh-tumbuhan kecuali hal itu mengurangi jumlah tasbih.” (HR Abu Nu’aim dalam al-Hilyah dari Abu Hurairah RA)
“Maukah aku ajarkan kepadamu seperti apa yang diajarkan Nuh kepada anaknya. Kuperintahkan kamu agar bertasbih kepada Allah dan memujiNya karena sesungguhnya ia adalah shalawat dan tasbih semua makhluk, dan dengannya semua makhluk dikaruniai rezeki.” (HR Ibn Abu Syaibah dari Jabir RA)
“Barangsiapa mengucapkan:
سبحان الله وبحمده
Seratus kali setiap hari, maka semua kesalahannya akan dihapuskan meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR Ahmad, Al Bukhari, Muslim, An-Nasa’I dan Ibn Majah dari Abu Hurairah RA)
Nabi saw bersabda kepada Ummul Mukminin Juwairiyah RA, “Telah kukatakan empat perkataan sebanyak tiga kali setelah dirimu berdoa, bila kata-kata itu ditimbang dengan apa yang telah kau ucapkan maka dia akan seimbang, yaitu:
سبحان الله وبحمده عدد خلقه ورضاء نفسه وزنة عرشه ومداد كلماته
(HR Muslim dan Abu Dawud dari Juwairiyah RA)
 

Jangan Gelapkan Yang Sudah Terang

27/04/12

Habis Gelap Terbitlah Terang. Demikian judul buku yang ditulis oleh Raden Adjeng Kartini, pejuang emansipasi wanita Indonesia. Dan kita tak bisa menutup mata terhadap sejarah yang mencatat perjuangan beliau dalam menempatkan kaum wanita pada hak dan kewajiban yang semestinya.
Jangan gelapkan yang sudah terang. Ini bukanlah judul sebuah buku, tapi mungkin akan dituliskan oleh Kartini bila beliau masih hidup di jaman sekarang, dimana emansipasi banyak disalahartikan, juga disalahtempatkan. Emansipasi sering dipahami sebagai sebuah kebebasan yang seolah tidak ada aturan. Sungguh, kebebasan yang kebablasan.
Atas nama seni dan kebebasan berekspresi, beberapa wanita masa kini rela bahkan ada yang bangga dirinya menjadi objek bahkan pelaku pornografi dan juga pornoaksi. Astaghfirulloh. Jika hari ini R.A. Kartini masih hidup, tentu beliau akan menangis sedih melihat degradasi moral kaumnya yang tragis. Benar-benar membuat miris.
Pria dan wanita mempunyai hak dan kewajiban yang sama. Dalam hal tertentu memang iya, tapi dalam beberapa hal lainnya, tetap ada perbedaan antara pria dan wanita, baik hak maupun kewajibannya.
Dalam hal pendidikan, pria maupun wanita memiliki hak yang sama untuk mendapatkannya. Bahkan Islam bukan hanya memandang ini sebagai hak, tapi kewajiban. Di berbagai riwayat, dapat kita temukan hadist yang menyebutkan kewajiban setiap muslim ( laki-laki dan perempuan ) menuntut ilmu, sejak masih dalam buaian hingga masuk dalam kuburan. Mengapa? Jawabannya ada pada hadist nabi lainnya, "Barang siapa menginginkan soal-soal yang berhubungan dengan dunia, wajiblah ia memiliki ilmunya ; dan barang siapa yang ingin (selamat dan berbahagia) diakhirat, wajiblah ia mengetahui ilmunya pula; dan barangsiapa yang meginginkan kedua-duanya, wajiblah ia memiliki ilmu kedua-duanya pula". (HR.Bukhari dan Muslim)
Jadi apa yang dulu R.A. Kartini perjuangkan adalah hal yang benar dan mulia. Tidak semestinya kaum wanita diperlakukan beda dalam hal mendapatkan pendidikan. Dan hasil perjuangan beliau sangat dirasakan sekali oleh kaum wanita masa kini. Berbagai prestasi, baik dalam bidang pendidikan maupun pekerjaan bukan lagi mutlak milik kaum pria. Banyak kaum wanita yang mampu menunjukan prestasi cemerlang melebihi laki-laki. Dan ini tidak masalah, tidak pula dilarang.
Yang menjadi masalah adalah ketika ada yang menuntuk haknya ( dengan dalih emansipasi ) tapi melupakan fitrahnya ataupun melalaikan kewajibannya sebagai perempuan.
Apapun prestasi di luar rumah, seorang istri tetap berkewajiban mengurus rumah tangganya. Apapun prestasi akademik yang dimilikinya, seorang istri harus tetap hormat dan patuh pada suami ( sepanjang dalam hal kebaikan dan kebenaran ). Setinggi apapun karir yang diraihnya, seorang ibu bertanggung jawab terhadap anak-anaknya. Seorang anak wajib berbakti pada orang tuanya.
Prestasi dalam pendidikan maupun pekerjaan tidak serta merta merubah fitrah seorang perempuan. Tidak pula menggugurkan kewajibannya terhadap keluarga, masyarakat dan juga negaranya. Emansipasi boleh jadi memberikan hak tapi tidak menghilangkan kewajiban seorang wanita. Ini yang terkadang kurang dipahami dengan baik oleh beberapa wanita masa kini. Bersenjatakan satu kata yaitu emansipasi ditambah lagi hak asasi, mereka beranggapan pria dan wanita sama, dalam segala hal, segala perkara. Tapi anehnya, ketika mereka terpojok, keluarlah senjata pamungkasnya “Saya ini kan wanita, jangan disamakan dengan pria!”
Majulah wahai saudari-saudariku, gunakan hak-hakmu untuk meraih mimpi dan cita-citamu tanpa harus mengabaikan fitrahmu, melalaikan kewajibanmu. Kartini, dengan perjuangannya, telah memberikan cahaya terang bagi kaummu, karenanya jangan gelapkan lagi yang sudah terang dengan perilaku burukmu. Kartini berjuang untuk meninggikan derajatmu, mendapatkan hak-hakmu, bukan untuk melawan kodratmu, bukan pula menghapus kewajibanmu. Jagalah terang yang telah Kartini persembahkan agar tetap bercahaya. Jangan biarkan nafsu mengembalikanmu pada kegelapan yang gulita.

*) Penulis : Abi Sabila (Penulis buku Remah-Remah Hikmah)
*) Sumber : eramuslim.com

Dunia Islam

Jum'at sehat

Sabtu Tadarus Quran

Keteladanan

Remaja

 
© Copyright Masjid Al-Ikhlash Kuden 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Masjid Al-Ikhlash Kuden