News Update :
Topics :

Aqidah Islamiyah

Oase Iman

Khutbah

Tazkiyatunnafsi

Shirah

Gallery Kegiatan


Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Remaja. Tampilkan semua postingan

Jadilah Generasi Rabbani, Bukan Generasi Ramadhani

20/07/12

Menjadi baik serta beriman di bulan Ramadhan tampaknya tidak asing lagi kita temukan. Perubahan yang signifikan bisa saja terjadi pada seorang muslim ketika bulan Ramadhan tiba. Ada yang salah? Wah, tentu saja tidak. Itu adalah satu kesyukuran bagi kita. Namun tampaknya ada hal lain yang perlu kita perhatikan selain ketakwaan di bulan Ramadhan. Itu tentang kita di luar Ramadhan.

Jadilah generasi Rabbani, bukan Ramadhani.
Generasi Rabbani tak kenal henti. Ia terus bergerak dalam upaya mendekatkan diri kepada Rabb nya. Hingga tak jarang ia harus mengesampingkan keinginan hawa nafsunya untuk sesuatu yang lebih besar di sana. Ia beribadah tak mengenal waktu dan tempat. Bibir mereka selalu basah dengan dzikir dan perkataan mereka tidak ada yang sia- sia. Hadirnya selalu dirindu bak oase di padang pasir.
Keimanan bukan musiman. Ia harus selalu hadir dalam setiap waktu,  bersama siapa pun, dan dalam kondisi bagaimana pun. Ramadhan hendaknya menjadi ajang latihan bagi kita untuk menghadirkan diri kita kembali sesuai fitrahnya. Ramadhan adalah saat yang tepat untuk mencharge kembali ruhiyah kita agar mampu bertahan hingga 11 bulan ke depan.

Keberhasilan Ramadhan terlihat dari kondisi kita di 11 bulan lainnya. Ini adalah indikator bahwa kita memang dianjurkan untuk menjadi sosok Rabbani, bukan Ramadhani. Ibadah harus terus memuncak setiap waktu, hati harus terus merendah dalam perjalanan hidup, dan pikiran harus tetap terjaga dalam setiap langkah. Itulah suksesnya Ramadhan yang sesungguhnya.

Ramadhan secara tidak langsung akan membentuk pribadi yang demikian ketika kita benar- benar memandang moment ini sebagai moment perbaikan. Tidak ada satu kegiatan pun yang tak bernilai pahala di bulan ini, bahkan tidur seorang muslim yang berpuasa juga adalah ibadah. Luar biasa.

Generasi Rabbani adalah harapan kita bersama. Mewujudkannya tentu tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu, mari manfaatkan Ramadhan sebaik mungkin. Tekadkan dalam hati bahwa kita adalah muslim yang beriman namun bukan musiman. Jadilah generasi Rabbani.
 

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1433 h/2012

16/07/12

Jadwal imsakiyah Ramadhan 2012 / 1433 H 
sumber Departemen Agama DIY 
http://yogyakarta.kemenag.go.id/file/file/Religi/gavz1341560881.pdf

Remaja Masjid Kudu Gaul!

04/06/12

ilustrasi saja
Wah nggak nyangka ini pertama kalinya gue mendapat tawaran untuk nulis di buletin gaulislam, deg-degan dan agak nervous nih maklum baru belajar. But, gue tetep kudu lakuin juga. Sebuah tantangan yang kudu gue taklukkin. Ciee.. “pede abis mode on!”
Oya, gue kali ini dapet jatah nulis seputar remaja masjid. Hmm… pastinya gue bisa dong buat jelasin soal ini. Kamu tahu kan remaja masjid itu apa? Bukan remaja yang nongkrongin di masjid sambil jagain beduk lho. Yup, remaja masjid adalah sekelompok pemuda/pemudi yang melakukan aktivitas sosial dan ibadah di lingkungan masjid. Walaupun tidak menutup kemungkinan di suatu daerah ada juga anggota remaja masjid yang berumur 35 tahun atau lebih (nggak tahu deh, di tempat lain mungkin ada yang udah kakek-kakek hehehe..).
Mungkin hal itu terjadi karena ngak adanya kaderisasi, padahal definisi remaja itu sendiri adalah masa peralihan antara masa anak dan masa dewasa yang berjalan antara umur 12 tahun sampai 21 tahun sedangkan kalo ditafsirkan dari bahasa inggris “teenager” yakni manusia usia 13-19 tahun. Wah kalo gitu umur gue udah kedaluarsa dong buat jadi remaja masjid! (mungkin gue tepatnya jadi engkong masjid kali ye!). Ah, nggak apa-apa deh, biarpun gitu gue tetep imut kok hehehe.. (narsis mode on). Sss.. jangan ribut ya.. maksudnya imut itu adalah item mutlak! Dan mutlak itu akronim dari “muda, tampan, dan berakhlak!” hahahaha.. (narsis lagi deh gue).
BTW, sebagian dari kamu mungkin berpikir bahwa remaja masjid adalah suatu kumpulan orang-orang monoton, yang kerjanya duduk, dengerin ceramah, pulang, sikat gigi, cuci kaki, terus tidur. Padahal nggak gitu juga deh. Kita juga bisa bikin kegiatan organisasi remaja masjid ini menjadi lebih menarik lho. Nggak percaya? Silakan dijajal!
Bro en Sis, bukankah menarik atau tidaknya setiap organisasi itu tergantung dari bagaimana keragaman aktivitas yang ada di dalamnya? So, menjadi remaja masjid itu bisa menarik, bisa nggak. Banyak kok alternatif yang membuat kegiatan remaja masjid menjadi menarik. Contohnya nih, selain kumpul-kumpul di masjid dan menimba ilmu agama kegiatan ini juga mengajarkan kita bagaimana berorganisasi, dan sarana untuk berbagi pengetahuan antar sesama aktivis. Misalnya aja ada temen kamu yang pinter nulis, pinter bikin web atau keterampilan khusus lainnya di sinilah kamu bisa manfaatin kegiatan kumpul-kumpul itu buat mempelajari keterampilannya. Nah, hal itu selain bermanfaat buat kamu, juga bisa memancing minat temen-temen kamu yang lain untuk bergabung sama kamu dan kawan-kawan. Iya nggak sih?
Kudu gaul!
Eits.. nanti dulu! Jangan mentang-mentang gue nulis bahwa jadi remaja masjid kudu gaul, terus kamu siap-siap deh menghiasi seluruh badan kamu pake tato apalagi tatonya itu tato batik, dengan dalih memperkenalkan seni membatik dari Indonesia ke luar negeri atau malah tato polkadot warna putih, entar malah disebut panu. Pengertian gaul disini ya harus secara syar’i en nggak boleh melanggar kaidah-kaidah keislaman. Inget, gaul itu nggak selalu identik dengan sesuatu yang negatif kok.
Bro, gaul di sini artinya adalah berwawasan luas, supel, dan mengerti teknologi yang ada saat ini. Berwawasan luas, artinya kamu harus tahu bagaimana perkembangan dakwah islam dan problematika yang dialami umat islam saat ini, serta penyelesaiannya.
Terus, selain kudu gaul, kamu juga harus supel. Bener nih. Jangan sampe deh kamu yang ngakunya sebagai remaja masjid hanya mau ngobrol dan main antar sesama aktivis remaja masjid aja, terus kamu mengisolasi diri kamu dari orang-orang sekitar. Nggak lah. Seorang remaja masjid itu kudu mudah bergaul alias supel karena dengan menjadi supel kamu dapat lebih banyak bergaul dan mengajak teman-teman kamu yang lain untuk bergabung menjadi anggota remaja masjid. Kamu kudu inget bahwa dirimu bertanggung jawab untuk berdakwah di lingkunganmu dan dakwah adalah interaksi. So, kalo kamu menutup diri dari orang lain dan merasa cukup bergaul di situ-situ aja, kapan bisa dakwahnyam Brur?
Sobat muda muslim, sebagai remaja masjid, setidaknya kamu juga kudu ngerti teknologi. Gimana juga,? setiap pemuda Islam baik itu remaja masjid atau bukan haruslah mengerti teknologi yang ada saat ini, misalnya mengetahui cara membuat website or blog, cara bikin e-mail, punya blog, kenal dengan situs jejaring sosial macam facebook dan friendster, dan sejeninsya lah. Tapi, kudu inget bahwa jangan mentang-mentang kamu udah bisa buat semua itu langsung deh kamu manfaatin buat kegiatan yang nggak produktif seperto cari pacar, amin gim atau sekadar obral obrol di situs jejaring sosial. Nggak lah. Gaul tentang teknologi yang tadi gue sebutin itu, adalah untuk mendukung aktivitas dakwah. Masih mending kalo buat cari duit sih nggak masalah. Ya,? yang terpenting sih kamu harus bisa manfaatin itu semua sebagai sarana dakwah dong! Ya, kayak buletin gaulislam ini deh (cieee.. pede abis mode on!”
Semangat berdakwah dong…
Jangan mentang-mentang kamu masih muda terus kamu kehilangan tanggung jawab untuk mengemban dakwah. Nggak lah. Kita kudu mengerti lho bahwa mendakwahkan Islam kepada setiap umat manusia adalah kewajiban yang dibebankan oleh Allah Swt. bagi kita semua (baik tua, muda, pria, dan wanita). Juga nih, jangan minder untuk mendakwahkan Islam. Misalnya, jangan sampe deh kamu selalu berpikir bahwa yang boleh dakwah itu harus pak ustadz dan pak kiyai aja. Nggak banget. Kamu tahu kan imam syafi’I, seorang ulama terkenal pembangun mazhab syafi’i beliau pada usia 18 tahun sudah mulai mengajar di Masjidil Haram dan berhasil membuat para jamaah haji menjadi terkagum-kagum dengan ilmunya. Jadi urusan umur itu bukan alasan yang tepat untuk nggak berdakwah.
Bro en Sis, sebagai aktivis dakwah di lingkungan kamu sendiri khususnya di kalangan remaja lainnya paling nggak kamu tuh kudu RMS. Hah, nggak salah nulis singkatan nih? Apa tuh RMS? Yup, RMS tuh Religius Modern ‘N Smart. Swit Swiw.. gue gitu lho! Hehehe…
Biar termasuk golongan remaja religius, paling nggak kita bisa percaya diri karena udah disebut dalam al-Quran sebagaimana firman Allah Swt. (yang artinya): “kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah yang munkar, dan beriman kepada Allah ( QS al-Imran [3]: 110).
Nah, sebagai seorang muslim, remaja masjid dan aktivis dakwah tentunya kamu kudu beriman dan bertakwa-baik dalam perkataan maupun perbuatan, jangan cuma jadi formalitas doang. Nggak seru dong kalo sampe aktif sebagai remaja masjid tapi hot juga maksiatnya. Ke masjid semangat, ke tempat dugem getol. Nggak deh! Kalo sampe kayak gitu sih bakal malu-maluin diri kamu sendiri. So, pastiin kamu adalah umat yang terbaik! Ok?
Sobat muda muslim, selain religius kamu paling nggak kudu gaul ngikutin jaman deh. Yup, modern. Sebagai seorang remaja kamu pasti nggak mau kan dibilang ketinggalan zaman, alias nggak modern? But,? kudu inget maksud modern di sini tuh bukan modern yang cuma ikut-ikutan aja-misalnya ada temen kamu yang bertingkah nggak sesuai dengan kaidah keislaman, terus kamu kasih tahu dia, eh dia malah bilang “ah dasar kamu nggak modern”. Parahnya kamu tergoda karena nggak tahan disebut nggak modern, hingga akhirnya kamu ngikutin dia deh. Wah itu sih bukannya modern tapi lebih ke arah plagiat atau jadi generasi pembebek untuk hal yang nggak bener. Ati-ati ye!
Bro en Sis, seorang muslim itu harus modern karena kitab suci kita al-Quran adalah kitab yang sesuai sampai akhir zaman. Lengkap dari mulai aturan kenegaraan alias politik sampai dengan hukum waris dan semua hukumnya dapat memenuhi naluri manusia. Nggak kayak kitab-kitab sebelumnya, malah tentang kemodernan al-Quran ini juga diakui oleh konferensi Montreal sebagai sumber pokok dari sumber-sumber hukum internasional modern. Wuih, gimana nggak bangga tuh kita sebagai umat Islam? Pokoknya kamu harus yakin kalo kita bertindak sesuai dengan tuntunan al-Quran maka kita akan menjadi umat yang modern, dan beradab. Yakin itu. Insya Allah banget lah!
Terus, selain religius dan modern, remaja masjid kudu juga “smart” lho. Ya iyalah, kita tuh orang muslim dan kita dituntut untuk menjadi orang yang smart alias cerdas sesuai dengan hadits Rasulullah saw. Sabda Rasulullah saw.: “Apabila Allah menginginkan kebaikan bagi seseorang maka dia diberi pendalaman dalam ilmu agama. Sesungguhnya memperoleh ilmu hanya dengan belajar.” (HR Bukhari)
Yup, menuntut ilmu dan belajar tuh diwajibkan lho dalam ajaran Islam, sehingga pada masa kekhalifahan generasi Islam telah menghasilkan banyak ilmuwan, baik dalam ilmu agama maupun dunia. Nah, karena begitu pentingnya pendidikan dalam Islam, ketika zaman kekhalifahan biaya pendidikan tuh gratis, nggak kayak sekarang ini ketika zaman telah dikendalikan oleh sistem kapitalis. Semua diukur dengan duit, dan dibatasi akses untuk dapetin pendidikan, juga dengan duit. Kacau kan?
Remaja masjid mandiri
Bro en Sis, dalam organisasi tuh pasti kan ada beberapa masalah. Mungkin kebanyakan kamu pernah juga ngerasain gimana sih kaum tua yang terkadang mengekang kita dalam setiap aktivitas termasuk turut campur dalam kegiatan remaja masjid ini. Misalnya aja ketika kamu bersama beberapa aktivis lain mengusulkan proposal jalan-jalan ke suatu daerah buat ngilangin kejenuhan yang ada sekaligus mempererat tali silaturahmi antar aktivis, tapi dengan entengnya “para tetua” itu bilang “Ah ngapain sih pake jalan-jalan mendingan buat inilah, itulah” mungkin kamu akan bete,? atau ketika kamu bikin buletin yang mau kamu tempelin di mading masjid eh malah ditutupin sama selebaran jumlah sumbangan masjid bulan itu (lebih nyeseknya tuh buletin yang kamu tempel belum berumur satu hari). Lebih betenya lagi orang yang nempelin bilang buletin kamu itu nggak penting, padahal kamu bikin buletin itu mati-matian.
Bisa juga ‘pengekangan’ itu ketika semua rencana acara yang kamu ajuin selalu ditolak sama DKM (bete mode on!). Kalo kasusnya seperti itu sebagai remaja kamu harus belajar dong untuk berdiplomasi dengan para sesepuh dan menjelaskan kepada mereka bahwa kegiatan kamu itu positif dan juga ada manfaatnya. Terus kamu harus bisa mastiin ke mereka bahwa kamu adalah remaja masjid yang mandiri. Juga, bisa aja ketika buletin kamu ditutup sama selebaran lain cobalah kamu cari alternatif lain dengan membuat mading pribadi khusus remaja. Jangan langsung pundung bin mutung, terus bubar jalan deh. Nggak lah ya. Jadi intinya, apapun yang terjadi kamu harus siap menghadapinya dan jangan terlalu bergantung pada DKM sepenuhnya-apalagi untuk urusan anggaran dana, cobalah kamu sekreatif mungkin dalam menjalankan organisasi kamu.
So, buatlah mereka bangga dan cobalah untuk tidak bergantung pada orang lain jadilah sebuah inspirasi buat orang lain. Hmm.. masih ragu untuk menjadi remaja masjid yang gaul? Nggak kan? Sip deh! [ikrar: ikrarestart@gmail.com]

*) Sumber : http://www.gaulislam.com

Apapun Peranmu, Surga Obsesimu!

03/05/12

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah…
Setiap kita dapat satu peranan…
Yang harus kita mainkan…
Banyak sekali peran di dunia ini. Menjadi seorang pelajar, public figure, politikus, wartawan, guru, dsb. Mereka memilih perannya masing-masing. Mereka memiliki tujuan yang berbeda satu sama lain. Jika keadaan terpuruk tak sedikit dari mereka memilih peran yang tidak halal. Tanpa disadari mereka memakan rezeki yang tidak barokah. Sikap pun menjadi tidak bermoral. Naudzubillah.
ALLAH menyediakan segala macam kenikmatan, rezeki dan rahmatNYA yang tiada henti untuk setiap makhlukNYA di muka bumi, tanpa terkecuali. Manusia sebagai makhluk yang dianugerahi akal dan pikiran semestinyalah menjaga segala keseimbangan yang ada di muka bumi. Jika keseimbangan itu sedikit berubah niscaya banyak bencana yang datang.
Manusia memiliki peran yang luar biasa besar untuk terus memberikan kesejahteraan pada sesamanya. Setiap yang kita lakukan seharusnya memiliki tujuan. Diawali dengan niat yang baik, dalam proses yang baik, sedangkan hasil serahkan pada yang kuasa. Banyak orang yang menginginkan hasil yang baik, diawali dengan niat yang baik namun melalui proses yang tidak baik.
Seperti kisah seseorang yang dianggap Hero, karena peduli pada rakyat kecil dan tidak menyukai pemerintahan. Hero ini selalu berkeliaran setiap malam. Ketika orang-orang sedang tertidur lelap. Mencuri harta benda orang-orang kaya. Dan paginya dibagikan kepada rakyat kecil. Setujukah Anda dengan cara Hero ini?
Meskipun niat dan tujuannya baik untuk menolong rakyat kecil. Namun caranya salah. Tetap itu tidak barokah dan sia-sia.
Banyak di sekitar kita yang tidak lagi mempedulikan halal atau tidaknya sebuah pekerjaan yang digelutinya saat ini. Mereka tidak pikir panjang apa dampak dari perbuatannya tersebut. Jadi jangan salahkan jika generasi muda saat ini banyak yang sulit diatur, dan bertindak semaunya. Karena di dalam tubuh mereka mengandung rezeki yang tak halal. Naudzubillah
Kembali kepada niat, agar ALLAH senantiasa meridhai setiap usaha kecil yang kita lakukan. Setiap usaha yang kita lakukan kita niatkan untuk membantu orang-orang yang membutuhkan. Kita niatkan agar kita doa-doa kita mudah dikabulkan. Agar ALLAH tidak menjatuhkan bencana karena murkaNYA kepada kita. Agar banyak generasi muda yang berakhlaqul kharimah.
Menjadi guru kita niatkan untuk mencerdaskan bangsa…
Menjadi penulis kita niatkan untuk menginspirasi banyak orang…
Menjadi pelajar kita niatkan untuk menjalankan amanah orang tua…
Menjadi wirausahawan kita niatkan untuk mandiri secara finansial…
Dan segala macam peran yang kita lakukan kita niatkan semata-mata hanya untuk mendapatkan ridhaNYA. Dengan cara yang disukaiNYA.
Surgakan Peranmu. Raih puncak bahagia penuh barokah. Tapaki peran, bahkan syukuri kegagalan sebagai pertolongan yang menyelamatkan. (Solikhin Abu Izzudin)
Pak Solikhin Abu Izzudin dalam buku HERO mempunyai rumusnya untuk mengemas dan mendesain peran sebagai jalan menuju syurga.
  • Clean, bersih dan berintegritas moral, shalih ritual alias shoolihun linafsih
  • Care, peduli sesama, berobsesi untuk selalu memberikan yang terbaik, give the best, shalih sosial alias naafi’un lighoirih
  • Competence, mampu mengemban amanah dengan handal dan profesional, service excellent.
Bukan peran yang kita permasalahkan dan kita keluhkan. Ubahlah cara kita menjalani peran itu. Jalani dengan penuh kesyukuran, keikhlasan. Semoga kita mendapatkan kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Apapun peranmu, surga obsesimu..!!

*) Oleh: Dina Fauziah 
 
 

Saling Memahami Dasar Toleransi

30/04/12

Malam cerah bertabur bintang. Di bawah temaram cahaya purnama yang hampir sempurna, beberapa mahasiswa dengan membawa poster dan beberapa perlengkapan lainnya, berjalan menuju gedung Humanity and Social Sciences. Ya. Malam ini University of Reading kedatangan dosen muda dari University of Chicago yang akan memberikan public lecture.
Temanya cukup provocative, “Muhammad: Oppressor or Liberator of Women?”. Ruang kuliah sudah penuh saat saya datang. Bukan hanya oleh mahasiswa muslim di University of Reading tapi juga oleh mahasiswa & mahasiswa non muslim. Bahkan ada diantara mereka yang membawa Bible sebagai tanda kesiapan untuk berdebat.
Menurut teman-teman, di University ini diskusi sudah demikian membudaya, termasuk mendiskusikan agama di ruang public sudah menjadi hal biasa. Dengan semangat menjelaskan dan bukan memaksa, setiap sebulan sekali Muslim Society di universitas ini mengadakan exhibition di lapangan untuk mengenalkan Islam atau menjelaskan Islam pada civitas akademika. Dengan membuka dialog seperti ini, mispersepsi terhadap islam bisa dijelaskan, dan hubungan antara Islam dan non islam menjadi sangat cair.
Terkadang, kita dengan alasan “khawatir tersinggung” merasa enggan untuk menyampaikan Islam kepada teman-teman kita. Toleransi berarti “diam” dalam masalah agama, tidak perlu ada yang dibicarakan karena agama dianggap “sensitif”. Padahal justru sebaliknya, toleransi harus dibangun atas dasar saling faham, karena itulah menjelaskan tentang Islam menjadi suatu keharusan untuk meminimalisir kesalahfahaman.
Mungkin kita pernah mengalami saat bertamu ke rumah teman yang bukan muslim, teman kita menyediakan makanan yang kita yakin tidak halal. Lalu kita tidak memakannya, apa yang terjadi?. Bisa jadi teman kita menjadi kikuk, dan mungkin juga tersinggung, karena kita dianggap tidak menghormati teman kita.
Kalau sejak awal kita sudah menjelaskan tentang makanan halal dimana berdasarkan agama yang kita anut kita wajib memakan makanan yang halal, maka insyaAllah orangpun akan faham dan akan menghormati kita. Sama seperti kita menghormati teman india kita yang vegetarian atau teman kita yang alergi makanan tertentu, tentu kita tidak akan memberikan mereka makanan yang tidak bisa mereka makan. Sikap saling menghormati justru lahir karena adanya saling faham dan saling faham terbentuk dengan adanya dialog.
Banyak hal tentang islam ini yang masih menimbulkan kesalahfahaman bagi sebagain orang karena kurangnya penjelasan yang benar dan memadai. Tentang konsep jihad yang disamakan dengan anarkisme dan terorisme, tentang jilbab yang dianggap symbol perbudakan, tentang sholat lima waktu yang dianggap menyebabkan waktu kerja terganggu, tentang makanan halal yang dianggap sebagai bentuk ekslusifisme, dan lain sebagainya.
Mispersepsi tentang konsep-konsep Islam boleh jadi terjadi karena ada fihak tertentu yang sengaja mebentuknya, tapi boleh jadi juga karena potret sebagian realitas yang bisa dinilai demikian. Untuk itulah dialog dan penjelasan meski dilakukan. Tidak usah malu untuk menjelaskan Islam, tidak usah takut orang lain akan tersinggung, karena justru kita ingin membangun toleransi yang benar. Toleransi yang didasarkan atas kesalingfahaman, bukan toleransi “diem-dieman”. Wallahu`alam.

*) Oleh : Mukhamad Najib, Mahasiswa Program Doktoral Universitas Tokyo
*) Sumber  : www.eramuslim.com

Dunia Islam

Jum'at sehat

Sabtu Tadarus Quran

Keteladanan

Remaja

 
© Copyright Masjid Al-Ikhlash Kuden 2010 -2011 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Powered by Blogger.com | Redesign by Masjid Al-Ikhlash Kuden